Pemerintah Indonesia Perluas Insentif Kendaraan Ramah Lingkungan: EV Tetap Prioritas, HEV Mulai Dilirik (2026)

1/4/20262 min read

Memasuki tahun 2026, arah kebijakan otomotif nasional Indonesia mulai terlihat semakin realistis. Jika beberapa tahun sebelumnya fokus pemerintah hampir sepenuhnya tertuju pada kendaraan listrik murni (EV), kini pendekatannya mulai melebar. Hybrid Electric Vehicle (HEV) perlahan masuk ke dalam radar insentif.

Langkah ini menandai perubahan strategi: dari ambisi percepatan elektrifikasi penuh, menuju transisi yang lebih adaptif dengan kondisi pasar dan infrastruktur.

EV Masih Jadi Tulang Punggung Kebijakan

Hingga awal 2026, kendaraan listrik berbasis baterai tetap menjadi prioritas utama. Insentif yang diberikan pemerintah masih berkutat pada:

  • Dukungan fiskal untuk EV yang memenuhi syarat TKDN

  • Kemudahan investasi dan produksi lokal

  • Dorongan percepatan ekosistem baterai dan komponen utama

Pemerintah menilai EV tetap menjadi solusi jangka panjang untuk menekan emisi dan mengurangi ketergantungan energi fosil. Namun, realisasi di lapangan menunjukkan satu fakta penting: adopsi EV belum bisa dipaksakan terlalu cepat.

Infrastruktur pengisian, kesiapan konsumen, dan harga masih menjadi tantangan nyata di banyak wilayah Indonesia.

Hybrid Masuk Sebagai Solusi Tengah

Di sinilah kendaraan hybrid mulai mendapatkan perhatian. Pada 2026, pemerintah—melalui koordinasi lintas kementerian termasuk Kementerian Perindustrian Republik Indonesia—mulai membuka wacana insentif untuk HEV sebagai teknologi transisi.

Hybrid dinilai:

  • Lebih mudah diterima konsumen konvensional

  • Tidak bergantung penuh pada charging infrastructure

  • Memberikan penurunan emisi tanpa mengubah pola penggunaan secara drastis

Bagi pemerintah, HEV bukan pengganti EV, melainkan jembatan menuju elektrifikasi penuh.

Industri Menyambut, Tapi Tetap Hati-Hati

Respons industri otomotif cukup positif. Banyak pabrikan—terutama Jepang dan Korea—melihat kebijakan ini sebagai sinyal bahwa investasi mereka di teknologi hybrid masih relevan.

Namun, pelaku industri juga menunggu kejelasan:

  • Bentuk insentif (pajak, PPnBM, atau non-fiskal)

  • Syarat TKDN untuk hybrid

  • Perbedaan perlakuan antara HEV, PHEV, dan EV

Tanpa regulasi yang jelas dan konsisten, insentif berisiko hanya menjadi wacana tanpa dampak signifikan ke harga jual.

Dampaknya ke Pasar 2026

Bagi konsumen, kebijakan ini berpotensi mengubah peta pilihan kendaraan:

  • EV tetap menarik untuk early adopter dan pasar perkotaan

  • Hybrid menjadi opsi rasional bagi pengguna harian

  • Gap harga antara ICE dan elektrifikasi mulai menyempit

Sementara itu, bagi industri aftermarket dan komponen, hybrid membuka peluang baru—mulai dari sistem pendinginan, kelistrikan, hingga roda dan ban dengan spesifikasi efisiensi tinggi.

Kesimpulan The Deep Auto

Kebijakan insentif 2026 menunjukkan satu hal penting: pemerintah mulai berbicara dengan bahasa pasar. EV tetap tujuan akhir, tapi hybrid diakui sebagai bagian dari perjalanan.
Bukan soal mundur dari elektrifikasi, melainkan soal bagaimana sampai ke sana tanpa mematahkan ekosistem yang ada.
Transisi otomotif Indonesia kini tidak lagi hitam–putih. Dan di area abu-abu inilah, justru masa depan industri sedang dibentuk.